Pembelajaran Berdiferensiasi Menuntun Murid Menuju Kodratnya

Pembelajaran Berdiferensiasi Menuntun Murid Menuju Kodratnya
Oleh : Fardia Fuspitasari, M.Pd.Si SMPN 01 Kepahiang

   Wacana terus disebar luaskan mengenai pembelajaran berdiferensiasi oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan dan Teknologi Riset, walau masih dalam proses persiapan dan pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya lain yang mendukung kegiatan tesebut, wadah yang disiapkan Pemerintah yakni adanya Program Guru Penggerak sebagai langkah menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan kapasitas sesuai dengan petunjuk dan aturan yang telah ditetapkan. salah satunya saya mencoba ikut terlibat langsung dengan mengikuti seleksi Calon Guru Penggerak, saya mengikuti proses sesuai prosedur yang ditetapkan, saat ini kegiatan Guru Penggerak angkatan 6 sudah masuk pada modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. 

    Rangkaian proses sudah saya ikuti dan ternyata banyak miskonsepsi yang terjadi selama ini akan pemahaman mengenai pembelajaran berdiferensiasi karena ketidakpahaman dalam menyaring informasi yang diterima sehingga terkesan pembelajaran berdiferensiasi ribet, susah dan tidak menyenangkan. setelah masuk pembelajaran di modul 2.1 saya merasa sangat terbantu dalam saya memahami makna pembelajaran berdiferensiasi. ternyata pembelajaran berdiferensiasi adalah  serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. 
        Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pijakan kita dalam memahami kebutuhan murid dalam proses pembelajaran, selain kita dapat melihat potensi murid, kita juga dapat memahami kebebasan murid dalam berkarya. dan tentunya kita dapat melakukan proses pembelajaran yang memanusiakan murid karena murid memiliki hak memperoleh pembelajaran yang terbaik untuk mereka, murid akan banyak belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang penting diantaranya memahami begitu indahnya perbedaan, menghargai makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai lainnya yang nantinya berkontribusi terhadap perkembangan dirinya sendiri lebih holistik. maka daripada itu kita sebagai pendidik harus mampu mempraktekkan pembelajaran berdiferensiasi dan mengolanya dengan baik.
   Pembelajaran berdiferensiasi terbagi tiga kategori diantaranya berdiferensiasi konten, berdiferensiasi proses dan berdiferensiasi produk, ketiga kategori berdiferensiasi tersebut dapat dikombinasi menjadi satu kesatuan tergantung kebutuhan murid dan kebutuhn konsep materi yang akan kita capai, namun diperbolehkan juga kita menerapakan salah satu dari ketiga kategori berdiferensiasi, misal dalam materi yang akan kita sampaikan dan sesuai kebutuhan murid hanya berdiferensiasi yang kita terapkan yakni berdiferensiasi kontens saja. begitu juga sebaliknya.
        Proses pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai belajar yang optimal, caranya dengan adanya asesmen awal pembelajaran guru mampu melakukan pemetaan pada murid karena saya sebagai guru IPA SMP yang mengajar pada murid kelas 7. kita dapat melihat kesiapan belajar murid, bahkan ke profile murid sebelum kita melakukan proses pembelajaran agar kita tepat dalam memetakan kebutuhan murid yang dibuthkan oleh murid kita. Pembelajaran IPA SMP kelas 7 banyak cangkupan materinya, sehingga kegiatan asesmen awal pembelajaran selalu dilakukan setiap awal materi atau konsep yang akan kita sampaikan kepada murid. setelah kita melakukan asesmen awal pembelajaran dan mengetahui tingkat pemahaman murid, maka murid tersebut akan kita kelompokkan menjadi kelompok kecil dengan memahami materi namun dengan cara yang berbeda dan teknik cara membimbing murid yang berbeda namun hal ini jangan disalah artikan untuk memperlakukan murid secara klasikal..untuk mengetahui ketercapaian pembelajaran yang optimal murid, guru dapat melakukan penilaian formatif kepada murid selama proses pembelajaran berlangsung selanjutnya kegiatan pembelajaran dilakukan dengan  praktek mengamati objek pengamatan langsung sehingga dapat memenuhi kebutuhan murid dalam memahami berdiferensiasi kontens.

                          Gambar 1. Murid mengamati langsung benda / objek dari konsep materi

        Modul 2.1 dalam program guru penggerak saling berkaitan dengan modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4 karena pada modul 2.1 mengenai pembelajaran berdiferensiasi hasil akhir yang akan diperloleh murid dapat mengejar atau menemui kodratnya sendiri karena pembelajaran berdiferensiasi menuntun murid dalam belajar sesuai dengan kebutuhan murid, sehingga dapat tertanam nilai-nilai profile pelajar pancasila pada murid tersebut, lalu akan menuntun murid untuk berkolaborasi dengan rasa tanggung jawab dalam memecahkan permasalahan konsep dalam materi IPA, dengan membiasakan proses pembelajaran berdiferensiasi secara tidak langsung kita sudah membiasakan murid melakukn kegiatan budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi juga membimbing murid untuk memanfaatkan teknologi karena hasil projek pembelajaran dapat dituangkan berdasarkan kemampuan dan minat murid, bisa berupa video, photo, artikel, poster dan sebagainya, walau mungkin pada awal pembelajaran berdiferensiasi membuat guru sedikit repot dalam mempersiapakannya namun berjalannya waktu baik guru maupun murid akan terbiasa.

                                 Gambar 2. Murid belajar dengan memanfaatkan teknologi

    Jika seluruh guru berkomitmen melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, maka 10 tahun kedepan kita sudah mencetak murid kita menjadi pribadi-pribadi  manusia yang berbudi pekerti, mampu menghargai orang lain, memahami makna perbedaan dan selalu mencari solusi ketika menyelesaikan permasalahan, menjadi pribadi yang selalu mencerminkan sikap profile pelajar pancasila baik di dunia kerja maupun membina keluarganya bahkan menjadi masyarakat-masyrakat yang berbudi pekerti sehingga kita dapat menghantarkan pendidikan Indonesia menjadi pioner perkembangan dunia Pendidikan secara Internasional, karena Indonesia pernah menjadi kiblat pendidikan dizaman Presiden Suekarno karena masa itu menteri Pendidikan Kihajar Dewantara, sekarang tugas kita melanjutkan cita-cita Kihajar Dewantara dalam memahami makna Pendidikan, karena murid turun dimuka bumi sudah dengan kodratnya masing-masing, dan Allah menciptakan manusia dengan perbedaan karena perbedaan tersebut membuat kita saling mengisi satu sama lainnya karena pada kodrtanya manusia tidak bisa hidup sendiri, maka perlu berkolaborasi dengan yang lainnya, jadilah manusia-manusia yang memiliki pribadi berbudi pekerti yang menghantarkan kita kepada hidup selamat dan berbahagia.

Komentar