Coach itu keren..seperti air yang mengalir


        Tepatnya dihari rabu siang ini, dengan cuaca yang sedikit hangat namun tetap sejuk dihati, tiada terasa sekarang perjalanan program guru penggerak angkatan 6 sudah diposisi mempelajari tentang choaching supervisi akademik, setelah dipelajari dengan seksama, ada butiran pencerahan yang terus bertambah membuat suatu keyakinan jika ini benar-benar diterapkan tentunya akan berdampak pada murid di 10 tahun mendatang, karena kita sudah memberikan rasa nyaman, aman dan ruang untuk murid mengeksplor kemampuan yang dimiliki, menjadi seorang coach tidak wajib memiliki keahlian tertentu karena tugasnya hanya menjebatani mengikuti alur air yang mengalir, karena keputusan tetap diambil oleh chocee melakukan perubahan untuk masa depan atau hanya jalan ditempat, antara choach dan chocee sebagai mitra dan tidak keduanya merasa paling tinggi atau paling rendah pemahamannya.             Kihajar Dewantara pada dasarnya sudah melakukan kegiatan coach sejak dulu hanya saja Kihajar Dewantara menggunakan kalimat Among, sifat kerjanya hampir sama dengan coach kita hanya menuntun murid menemui potensi diri dengan kesadarannya sendiri menuju  kodratnya. berjalannya waktu banyak metode pendekatan dikembangkan seperti mentoring, konselor, training, fasilitator yang tentunya kempat tersebut pernah kita peran juga dilingkungan sekolah, mentoring yakni seseorang yang berpengalaman dibidangnya yang sangat ahli dan sudah teruji keahliannya berbagi pengalaman kepada audiensnya agar menjadi referensi ketika mendapatkan keadaan yang sama dengan mentornya, jika konselor digunakan pada saat murid, rekan sejawat atau pihak sekolah mengalami permasalahan dan tugas konselor memberikan beberapa alternatif solusi kepada klien, yang nantinya klienlah yang memutuskan memilih solusi yang menurutnya terbaik, beda dengan trainer bertugas merencanakan sebuah kegiatan tertentu dengan waktu tertentu pesertanya tergantung kebutuhannya dany hanya saat kegiatan tersebut melakukan pendampingan, namun fasilitator bertugas hanya sebatas memfasilitasi kebutuhan audiens dalam melaksanakan kebutuhan yang akan dicapai. dari beberapa metode diatas yang sangat ideal saat ini melakukan choching karena kegiatannya bersifat fleksibel seperti air yang mengalir yakni alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggung Jawab) walaupun metode ini mengalir seperti air namun tetap menuntun chocee yang akhirnya menyadarkan dirinya untuk mengeksplor kemampuannya dan memutuskan sikap yang akan diputuskan dalam hal memenuhi kebutuhan yang akan chocee capai. 
            lalu apa bedanya choching dengan curhat...? karena jika dilihat alur choching sama seperti orang yang sedang curhat...yap benar, namun perbedaannya sangat tipis sama-sama curhat namun proses choching lebih sistematik choch menuntun chocee menemukan solusi yang dibutuhkan dirinya tanpa chocee sadari karena chocee dituntun dengan pertanyaan yang berbobot sehingga chocee berani mengambil sikap dan keputusan, jika curhat bersifat sangat rahasia dan tidak tersistematik arahnya dan curhat juga bisa akan menjadi luas alurnya karena curhat tidak tersistematik. dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa menjadi coach tidak harus memiliki keahlian khusus karena pada dasarnya manusia sudah Allah beri kekuatan, keahlian menjadi choch karena manusia sebagai khalifah dimuka bumi yang yang dapat membuat perubahan lebih baik karena kita sebagai manusia pada dasarnya adalah manusia yang fitrah, menjadi mitra kata kuncinya karena kita diajarkan dalam agamapun harus menjaga silatuhrahmi, ketika semua peran ini sungguh-sungguh diimplementasikan dilingkungan sekolah maka kita akan mencetak generasi emas di tahun 2045, maka dari itu kita sebagai bagian dari orang-orang pilihan, bersama-sama kita bergerah mengubah peradaban ini terutama dunia pendidikan lebih baik lagi. 



            Sebagai coach disekolah saya belum maksimal menerapkan didalam proses pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional, karena baru dilakukan memodifikasi modul ajar beberapa bab materi IPA kelas VII semester ganjil. Mempraktekkan proses pembelajaran dan kompetensi sosial emosional baru satu kelas sebagai objek observasi, karena keterbatasan waktu dalam melaksanakannya, namun peran saya dalam choching sudah saya lakukan dengan beberapa murid yang mempercayai saya sebagai choch, murid datang menemui saya lalu bercerita permasalahannya salah satunya mengenai kesulitan murid tersebut dalam berkomuikasi secara verbal/ bicara dengan temannya yang lain, setelah melakukan choching selama kurang lebih dua hari akhirnya murid tersebut mengalami perubahan sedikit demi sedikit dan mulai berkomunikasi dengan teman satu bangkunya walau diawali dengan teknik menulis dibuku murid tersebut dalam hal mengungkapkan pendapatnya. dari hal tersebut saya mendapatkan satu pembelajaran bahwa kebutuhan murid berbeda karena murid tersebut terlahir dari kondisi keluarga, pendidikan dan latar belakang ekonomi yang berbeda, maka benar ketika filosofi kihajar dewantara menyatakan bahwa murid itu unik. 
            Keterkaitan keterampilan choaching dengan pemimpin pembelajaran sangat terkait karena kita sebagai guru merupakan pemimpin atau komandan dalam proses pembelajaran yang akan kita terapkan pada murid kita, karena kita sebagai pemimpin akan memberikan proses pembelajaran yang dinamis sesuai kebutuhan murid tersebut, sebagai choch kita hanya menuntun murid menemukan potensi yang ada pada dirinya dalam hal memenuhi kebutuhannya, kita menuntun murid untuk lebih mengeksplor dirinya dan memberikan ruangnya untuk berkreatifitas sesuai minat dan bakatnya.

Komentar